LOMBA KARYA TULIS FIKOM UNISSULA
LOMBA KARYA TULIS FIKOM UNISSULA
Tema: Perkembangan Dunia Broadcasting di Indonesia
MEMBOBOL DUNIA DENGAN SIAR
Komunikasi sudah dilakukan sejak manusia yang pertama kali turun ke dunia. Komunikasi bukan berarti mengeluarkan kata-kata dengan bahasa yang dimengerti, tapi juga bermakna sebagai hubungan antara makhluk satu dengan makhluk lain, baik itu secara eksternal maupun internal. Eksternal artinya komunikasi yang dapat dilihat oleh orang lain. Adapun internal berarti hanya dirinya dan orang tersebut yang merasakan, contohnya tatapan dua orang manusia yang kemudian bergumam sendiri dalam hati mengenai penilainnya terhadap orang tersebut.
Seiring dengan perkembangan zaman dan pola pikir manusia. Mereka dapat menciptakan suatu cara komunikasi yang sederhana, yaitu bahasa. Semakin lama, bahasa berkembang pesat, sehingga memunculkan keanekaragaman bahasa dari tiap wilayah. Bahkan, sekarang ada yang namanya istilah dan idiom. Kemudian, atas dasar pemikiran manusia, mereka menciptakan alat-alat komunikasi, seperti telegram, faksimile, telepon, ponsel, serta yang paling digandrungi saat ini; internet. Dan alat komunikasi yang masih bertahan sampai sekarang, bahkan tidak menyurutkan atau menurunkan nilai peminat, yakni broadcast yang di antaranya meliputi; radio dan televisi.
Broadcast atau penyiaran menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti menyiarkan; menyeratakan kemana-mana; memberitahukan kepada umum dengan perantaraan radio, televisi, surat-surat kabar, selebaran, pengumuman, dan sebagainya; mengumumkan berita dan sebagainya; menyebarkan atau mempropagandakan pendapat, paham, agama, dan sebagainya.
Penyiaran berkewajiban memberitahu sesuatu yang berguna serta bernilai positif. Tapi pada kenyataannya. Peraturan seperti itu tidak begitu dilirik oleh berbagai media penyiaran. Yang menjadi tolak ukur kuliatas suatu media siar saat ini, bukan dari seberapa banyak info positif yang telah diberikan kepada masyarakat, tetapi seberapa banyak media tersebut memberikan hiburan kepada masyarakat. Apakah sebegitu rendahnya Sumber Daya Manusia di Indonesia, sehingga setiap hari masyarakat ‘hanya’ memerlukan hiburan, tanpa adanya ilmu yang masuk ke dalam kehidupannya?
Dahulu, di masa reformasi, radio, televisi, maupun surat kabar, digunakan untuk memberitahukan berita-berita mengenai Belanda dan Jepang serta usaha-usahanya untuk merebut Indonesia. Walaupun peperangan terjadi, dan Jepang serta melarang Indonesia untuk membuat berita macam itu, tetapi rakyat Indonesia bersikukuh untuk mempertahankan media komunikasi yang masih dapat dikatakan minim tersebut. Lebih parahnya lagi, ketika pemuda Indonesia membuat radio rahasia untuk memboncorkan aksi-aksi apa saja yang akan dilakukan oleh penjajah itu. Radio buatan sendiri tersebut merupakan satu-satunya radio yang tidak diberantas oleh Jepang. Namun, pada akhirnya, Jepang mengetahui hal ini, dan memberantas media komunikasi tersebut.
Di masa ini, tak ada perjuangan sehebat dulu—yang rela bertaruh nyawa demi menyiarkan berita penting. Dekade sekarang lebih mengarah kepada siar hiburan, berupa gosip-gosip artis, lagu-lagu, dan sinetron-sinetron tidak mendidik yang justru sangat berkembang pesat dibandingkan berita negara ataupun mengenai dunia pendidikan.
Manusia memang tidak bisa mengubah sesuatunya dengan sekaligus. Harus pelan-pelan, tapi dengan hasil yang sempurna. Menyiarkan hiburan-hiburan kepada masyarakat bukanlah suatu pantangan, namun harus diimbangi pula dengan pesan moral dan pendidikannya. Misalkan, dalam acara musik yang sangat digemari para remaja, media penyiaran sebaiknya menyisipkan beberapa info penting seperti bagaimana negara ini berdiri, ataupun bagaimana melindungi bumi dari bahaya global warming. Pastinya, berita itu harus dikaitkan dengan hiburan tersebut.
Ingat, porsi hiburan dan pendidikan siar di media harus diimbangi. Jangan sampai masyarakat Indonesia dipenuhi dengan hiburan dan pikiran-pikiran yang dongkol. Menyiarkanlah sesuatu yang positif. Pemerintah pun diharapkan dapat memberikan acuan lebih kepada media-media penyiaran. Sampai kapan SDM Indonesia terus menerus seperti ini? Bahkan, saat pemerintah berupaya meningkatkan mutunya, masyarakat malah beranggapan lain, seperti kasus perdebatan ada atau tidakadanya Ujian Nasional 2010 ini. Itu terjadi karena otak masyarakat Indonesia sudah diprogram untuk menikmati hiburan saja, bukan berpikir ataupun mencari inovasi baru.
Yolla Miranda–Kuningan, Jabar
ANGKA RAHASIA
Aku seperti mendapatkan sekarung emas. Girangnya bukan main. Sebentar lagi, aku akan melihat langsung keunikan sapi Pak Mur. Pertama kali aku mendengar cerita Dion, aku langsung tertarik dan bersemangat untuk pergi ke rumah Pak Mur.
Derap kakiku menuju rumah Pak Mur adalah suatu semangat yang membara. Begitupun dengan Bimbim dan Dion. Sesungging senyum selalu mereka perlihatkan saat berjalan menuju rumah Pak Mur yang masih satu komplek dengan kami. Maklumlah, di komplek ini hanya ada empat rumah. Dari ujung kanan ada rumahku, Pak Mur, Dion, Bimbim, dan di ujung kiri ada sebuah lapangan yang cukup luas.
Dion melangkah paling depan. Tapi, suasana pertama yang kami rasakan benar-benar menyesakan dada. Momo, sapi Pak Mur satu-satunya baru saja dicuri orang. Pak Mur pun hanya bisa terdiam, pasrah dengan semua kenyataan ini.
Saat hilangnya Momo di pekarangan belakang, Pak Mur sedang mengantar Caci ke sekolah. Dan saat kembali ke kandang Momo, Momo telah menghilang. Bahkan pencurinya tidak meninggalkan jejak satu pun. Ya, Pak Mur mengaku ia lalai menjaga rumahnya, karena saat itu ia lupa tidak mengunci kandang Momo dan juga rumahnya.
Dengan segudang tanda tanya, aku dan Dion memeriksa kandang Momo, sementara Bimbim pamit pulang.
“Aku ingin menyelidiki siapa yang telah mencuri Momo,” kataku pada Dion yang sedang asyik memperhatikan lampu hias Pak Mur.
Dion hanya mengangguk tanda setuju. “Aku baru ingat! Kemarin sore aku melihat Bimbim memberi makan sapi di lapangan. Tapi, aku tak tau pasti itu Momo apa bukan. Setahuku Bimbim tak punya sapi. Bisa jadi keluarga Bimbim yang mencurinya,” jelas Dion.
“Jadi kamu menuduh Bimbim?” tanyaku seraya mengernyitkan kening.
“Tidak juga. Tapi, keluarga Bimbim patut diwaspadai,” jawab Dion berlaga detektif.
Sejuta misteri masih menyisa di dadaku. Aku pergi seorang diri menuju lapangan untuk memastikan apakah benar Momo ada di sana. Memang benar, seekor sapi berdiri di tengah lapang dengan nomor 347 di tubuhnya. Aku segera mengajak Pak Mur ke lapangan. Aku memang belum pernah melihat sapi Pak Mur, karena sapinya masih terbilang baru. Hanya sekitar dua hari sapi itu mampu bertahan di rumah Pak Mur, dan kini sapi itu menghilang penuh teka-teki. Menurut Pak Mur, sapi itu memang mirip dengan Momo, karena ada bekas goresan luka di lehernya yang mirip sekali dengan Momo. Tapi, angka 347 di tubuh sapi itu membuat Pak Mur terus bertanya, sebab Momo tak memiliki tulisan apapun di tubuhnya. Ya, bisa saja si pencuri sengaja memberikan tulisan itu agar tak ada satu orang pun yang curiga.
Tapi, tak tahu mengapa, aku menjadi yakin sapi itu adalah Momo. Menurutku pencuri itu hendak menjual Momo. Tapi, untuk apa sapi itu diterlantarkan di lapangan? Ah, entahlah, itu bukan tugasku. Tugasku hanyalah mencari siapa pencuri itu.
Menurutku pencurinya antara keluarga Bimbim dan Dion, karena hanya keluarga mereka yang baru mengetahui bahwa Pak Mur memiliki seekor sapi. Berarti, aku harus menyelidiki keluarga mereka dengan satu petunjuk, yaitu angka 347.
Aku bersembunyi di sebuah pohon yang cukup besar. Sapi itu tak kunjung diambil oleh si pencuri. Sepertinya pencuri sengaja menelantarkan sapi itu. Sebenarnya, tugasku hanya satu, melacak si pencuri. Jadi atau tidak jadinya ia mencuri itu bukan masalah, karena intinya hanyalah menyelidiku siapa pencuri itu.
Pencarianku di mulai dengan berbekal satu petunjuk, angka 347. Di awali dari keluarga Bimbim. Saat aku, Bimbim, dan Dion berkunjung ke rumah Pak Mur, Bimbim tiba-tiba saja pamit dan pulang tanpa memberikan alasan yang jelas.
08100012663. Itu adalah nomor ponsel Bimbim. Di ujung nomornya terdapat angka 3. 3 termasuk bilangan dari angka 347. Berarti keluarga Bimbim patut diwaspadai. Dengan perlahan, aku memijit nomor ponsel Bimbim.
“Hei, Bim. Kenapa waktu kemarin kamu langsung pamit? Kita kan belum main sepak bola,” kataku di telepon.
“Maaf, ya. Aku harus ke rumah nenek. Sekarang aku masih di sana. Mungkin lusa aku baru pulang,” jawab Bimbim.
“Oh, ya, menurutmu Dion suka angka berapa? Aku punya beberapa kaus yang ada nomor di bagian punggungnya. Aku ingin membagikannya padamu dan Dion,” aku sedikit berbohong, karena aku ingin tau angka apa yang disukai Bimbim dan Dion. Semoga saja Bimbim tak curiga padaku.
“Dion suka sekali angka 4. Kalau aku angka 3 saja, ya!” jawab Bimbim girang.
“Aku akan memberikannya kalau kamu sudah pulang. Sudah dulu, ya. ” Tuuut… aku menutup teleponku.
Bimbim suka angka 3, dan Dion suka angka 4. Berarti, tinggal tersisa angka 7. Ada dua kemungkinan. Kalau keluarga Bimbim yang mencuri Momo, artinya keluarga itu sengaja meanaruh Momo di lapangan, sementara mereka pergi ke suatu tempat agar kecurigaan orang-orang tidak terfokus pada keluarganya. Tapi, kalau keluarga Dion yang mencuri, artinya selama ini Dion sengaja menuduh Bimbim, dan menaruh Momo di lapangan yang bersebelahan dengan rumah Bimbim, agar orang-orang mencurigai keluarga Bimbim.
Tak ada pilihan lain selain pergi ke rumah Dion untuk menyeliiki kasus ini lebih dalam lagi. Aku berpura-pura meminjam buku catatan Dion. Padahal, aku ingin sekali mengetahui tanggal kelahiran Dion. Untunglah, Dion sama sekali tak curiga padaku. Aku membuka halaman pertama buku Dion, dan membaca biodata singkatnya.
NAMA : DION BENTONY
TTL : KUNINGAN, 3 DESEMBER 1997
SEKOLAH : SDN 1 CIPORANG
Yup. 3 Januari 1997. 3 merupakan bagian dari bilangan 347. Di ujung tahun kelahiran Dion terapat angka 7, itupun menunjukan bagian dari bilangan 347. Selain itu, Dion suka angka 4, dan itu juga merupakan bagian dari bilangan 347. Ya, artinya keluarga Dion-lah yang mencuri. SEMUA TELAH TERUNGKAP. MENGAKU SAJA, SEBELUM AKU YANG MELAPORKANNYA. AKU DETEKTIF TYO!
Aku menuliskan kalimat itu di buku Dion, dan langsung mengembalikannya.
Keesokan harinya, sepucuk surat telah tergeletak di teras rumahku.
AKU MEMANG MENCURI MOMO. KELUARGAKU BUTUH UANG, IBUKU SAKIT. AKU BERJANJI TAK AKAN MENCURI LAGI, KARENA APAPUN ALASANNYA MENCURI ADALAH PERBUATAN YANG SANGAT BERDOSA. TERIMAKASIH TELAH MENGINGATKANKU. KUPIKIR KAMU TAK AKAN TAHU MENGENAI ANGKA 347 ITU. KAU DETEKTIF YANG HEBAT, TYO!
Aku tersenyum puas. Misteri ini akhirnya terungkap. Aku bangga bisa memecahkan angka rahasia itu. Tapi, aku juga bersedih, karena Dion sedang mengalami musibah. Aku harus menolongnya, aku tak peduli dia pencuri atau bukan, yang jelas dia masih sahabatku.
KALA SENJA BERBALIK ARAH
Oleh : Yolla Miranda
Sinar kehangatan yang mulai merasuk jiwa
Sepintas seperti dunia nyata
Tetapi bayangan pilu selalu muncul di hatiku
Bayangan yang tak pernah luput dalam benakku
Embun pagi yang selalu menggetarkan nadiku
Kesejukan muncul kala ia berbalik arah
Keelokan sang mentari menyingsing di atas ratapan api
Ragaku semakin panas, panas sekali
Kala itu…
Aku tak ingin berkata apapun
Walau hanya satu patah kata
Walau hanya kepada rumput yang kering
Mana? Dimana ragaku?
Aku haus, haus sekali
Berikan aku setetes air
Tolong, bangkitkan ragaku
Semu…
Raga yang semu
Jiwa yang hancur
Tubuh yang melebur
Tuhan…
Jangan Kau balikan senja itu
Jangan Kau rubah malam yang indah itu
Jangan Kau biarkan ragaku hancur
Bagiku, senja tetaplah senja
Malam tetaplah malam
Aku hanya ingin
Senja itu tak berbalik arah
Juara 1 menulis puisi Tk. Kab kuningan

